Religiusitas Orang-Orang Pinggiran :

December 17, 2008 by admin  
Filed under Opini

Gejolak Psikososial Mereaksi Paradoks Keimanan, Analisis Kasus Yusman Roy

Oleh : M. Mahpur *

Ustadz Mohammad Yusman Roy (Gus Roy), seorang pengasuh pondok I’tikaf Jamaah Ngaji Lelaku di Lawang Jawa Timur, April-Mei 2005 sempat membuat geger kaum muslimin. Dia berijtihad dengan membolehkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dalam shalat. Peristiwa ini tidak hanya membuat kalangan umat Islam gundah, namun kasusnya telah sampai ke kepolisian karena dianggap pendapatnya sebagai buah dari penistaan terhadap agama tertentu (Islam).

Read more

Sikap Perempuan terhadap UU Pornografi

November 23, 2008 by admin  
Filed under Opini

Rabu, 19 Nopember 2008

Oleh: Akhol Firdaus
Undang-Undang (UU) Pornografi tetap disahkan 30 Oktober lalu di tengah menguatnya gelombang penolakan.  Di antara banyaknya suara penolakan, kritik  yang paling keras datang dari kelompok perempuan. Mereka berpandangan bahwa, UU ini berpotensi mempertebal stigma terhadap perempuan. Bila tidak dikontrol dengan baik, UU ini bahkan bisa memantik berkembangnya kriminalisasi terhadap perempuan dan anak-anak yang terjerat dalam industri pornografi.

Read more

Menuntaskan Masalah Tionghoa ”Stateless”

November 16, 2008 by admin  
Filed under Opini

Oleh : Tom Saptaatmaja

Negeri ini memang penuh dengan ironi dan fenomena aneh. Misalnya, orang yang sudah bergenerasi atau berpuluh tahun tinggal di negeri ini ternyata harus menunggu lama untuk bisa memiliki identitas resmi negeri ini seperti KTP atau KSK. Contohnya Pok Tjie Ing, setelah menunggu selama 13 tahun, pria berumur 43 asal kawasan Krembangan, Surabaya, itu bisa mendapatkan KSK (kartu susunan keluarga) yang diidam-idamkannya pada 9 Oktober 2006 lalu. Dia secara sah resmi telah menjadi WNI, meski harus keluar banyak uang dan kesabaran berlipat ganda.

Read more

Mensykuri Anugerah Keragaman Dengan Merayakannya

November 15, 2008 by admin  
Filed under Opini

Oleh L. Riansyah

Kelompok liberalisme menyatakan bahwa akar kasus penyesatan yang selama ini terjadi adalah karena praktik keberagamaan kita yang mementingkan aspek formalitas. Agama adalah sebuah relasi antara manusia dan tuhan. Melalui ritual, dialog antara sang hamba dengan sang pencipta bisa terjadi kapanpun dan di manapun. Tentunya ritual keagamaan menjadi wilayah privacy yang tidak penting orang lain tahu. Maka, ekspresi dan artikulasi terhadap keyakinan tidak seharusnya dipamerkan ke orang lain. Ritual keagamaan ketika diekspose secara berlebihan tak jarang memunculkan persinggungan dengan entitas keberagamaan lain. Terlebih, jika artikulasi keberagamaan ini berangkat dari tafsir yang berbeda dari pemahaman mainstream.

Read more